Apa itu Turnover Karyawan

Apa itu Turnover Karyawan, dan Kenapa ini Penting Diperhatikan?

Apakah sobat TOGI tau Apa itu turnover karyawan? Bagi Anda yang berkecimpung di dunia Human Resource (HR), istilah ini adalah sinyal yang menunjukkan seberapa sehat sebuah organisasi atau perusahaan menjaga talenta terbaiknya.

Dalam dunia bisnis modern yang semakin terdigitalisasi, perusahaan tidak hanya berbicara soal penjualan, teknologi, atau Internet of Things (IoT). Satu hal penting yang sering luput diperhatikan justru ada pada sumber daya manusianya, yaitu mengenai turnover karyawan dan bagaimana dampaknya terhadap keberlangsungan bisnis.

Di era IoT, data bisa berbicara. Mesin, sensor, dan sistem bisa memberi tahu kondisi operasional secara real-time. Namun, jika karyawan terus keluar-masuk tanpa kendali, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, perusahaan Anda tetap akan kewalahan.

Lalu sebenarnya, apa itu turnover karyawan, mengapa penting untuk diperhatikan, dan bagaimana cara mengelolanya dengan tepat? Mari kita bahas bersama secara menyeluruh untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh.

Apa itu Turnover Karyawan?

Jika Anda bertanya tentang apa itu turnover karyawan, dapat dipahami sebagai istilah yang menggambarkan pergantian karyawan dalam perusahaan selama periode tertentu. Pergantian ini dapat terjadi karena berbagai alasan, baik secara sukarela, misalnya ketika karyawan mengundurkan diri karena memperoleh peluang kerja yang lebih menarik, maupun secara tidak sukarela akibat kebijakan perusahaan atau kondisi bisnis tertentu.

Dengan demikian, turnover karyawan mencerminkan kondisi perputaran tenaga kerja, baik dalam jumlah kecil maupun besar, dalam jangka waktu tertentu.

Dalam praktiknya, turnover karyawan menjadi salah satu indikator penting kesehatan organisasi. Data nyata menunjukkan bahwa tingkat turnover sangat dipengaruhi oleh skala perusahaan dan kebijakan sumber daya manusia.

Beberapa perusahaan besar di Indonesia mampu menjaga tingkat turnover karyawan relatif rendah dan stabil di kisaran 4 % hingga 5 %, bahkan berhasil menekannya hingga sekitar 2 % pada tahun 2024.

Kondisi ini mencerminkan keberhasilan strategi retensi, stabilitas organisasi, serta pengelolaan karier karyawan yang terencana dengan baik. Sebaliknya, perusahaan kecil hingga menengah cenderung menghadapi tingkat turnover karyawan yang lebih tinggi, bahkan di atas 15 % per tahun.

Di era manajemen modern berbasis IoT dan sistem digital, turnover karyawan tidak lagi sekadar dihitung sebagai angka statistik. Perusahaan dapat memantau data kehadiran, produktivitas, performa, hingga tingkat keterlibatan karyawan yang terekam dalam sistem digital untuk memahami pola turnover secara lebih mendalam.

Pemahaman ini menjadi langkah awal yang penting agar perusahaan dapat menjaga keseimbangan tim, meningkatkan produktivitas, serta membangun lingkungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.

Seberapa Umum Turnover Karyawan Terjadi?

Turnover karyawan merupakan fenomena yang wajar dalam dunia kerja modern. Jika ditinjau dari pengertiannya, apa itu turnover karyawan dapat dipahami sebagai proses keluar-masuknya tenaga kerja dalam suatu organisasi. Tidak ada perusahaan yang mampu mempertahankan seluruh karyawannya secara permanen sepanjang waktu.

Pada tingkat tertentu, turnover yang normal justru dapat menjadi indikator kesehatan organisasi. Kondisi ini mencerminkan adanya perputaran tenaga kerja yang seimbang serta kemampuan perusahaan dalam menyesuaikan diri dengan dinamika dan kebutuhan bisnis.

Berdasarkan survei Willis Towers Watson, tingkat turnover karyawan di Indonesia tercatat mencapai 8,8%, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di angka 7,3%. Data ini menunjukkan bahwa perputaran karyawan merupakan fenomena yang umum terjadi di pasar tenaga kerja Indonesia.

Dalam situasi tertentu, turnover bahkan dapat memberikan dampak positif. Misalnya, perusahaan memiliki kesempatan untuk mengganti karyawan dengan performa rendah dan mendapatkan talenta yang lebih sesuai dengan kebutuhan.

Namun demikian, apabila angka turnover terlalu tinggi atau terjadi dalam waktu singkat, hal ini bisa menjadi sinyal peringatan bagi perusahaan, karena menunjukkan potensi masalah dalam manajemen SDM, budaya organisasi, atau kepuasan karyawan yang perlu segera mendapatkan perhatian dan penanganan serius.

Mengapa Turnover Karyawan Penting untuk Diperhatikan?

Di era IoT dan otomatisasi, manusia tetap memegang peran vital sebagai penggerak utama roda perusahaan. Meskipun mesin dan sistem digital dapat bekerja tanpa lelah, strategi, inovasi, pengambilan keputusan, serta kualitas pelayanan tetap sangat bergantung pada kemampuan, kreativitas, dan kompetensi karyawan.

Perusahaan yang mampu memadukan teknologi dengan sumber daya manusia yang kompeten cenderung lebih adaptif dan berdaya saing tinggi di pasar modern.

Turnover karyawan yang tidak terkontrol akan dapat menyebabkan:

  1. Gangguan operasional – Kekosongan posisi kunci dapat memperlambat proses bisnis dan menurunkan produktivitas tim.
  2. Biaya tinggi – Perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk rekrutmen, pelatihan, dan adaptasi karyawan baru.
  3. Kehilangan pengetahuan dan pengalaman – Karyawan yang pergi membawa pengetahuan dan pengalaman yang berharga, sehingga perusahaan kehilangan aset intelektual.
  4. Dampak pada moral dan budaya kerja – Tingginya turnover dapat menurunkan semangat kerja tim, menimbulkan ketidakpastian, dan memengaruhi kepuasan karyawan yang tersisa.
  5. Risiko reputasi – Perusahaan dengan tingkat turnover yang tinggi dapat dilihat sebagai tempat kerja yang kurang stabil, sehingga memengaruhi kemampuan menarik talenta terbaik.

Dengan bantuan teknologi IoT dan HR analytics, perusahaan kini bisa mendeteksi gejala turnover lebih dini, seperti melalui penurunan kehadiran, perubahan pola kerja, atau penurunan performa karyawan.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengambil langkah proaktif untuk menjaga retensi dan stabilitas tim sebelum permasalahan berkembang lebih serius.

Faktor Penyebab Turnover Karyawan

Untuk memahami apa itu turnover karyawan, Anda juga perlu mengetahui penyebabnya. Secara umum, faktor penyebab turnover dibagi menjadi tiga kelompok besar.

1. Faktor Individu

Faktor ini berasal dari karyawan itu sendiri dan bisa memengaruhi kinerja maupun motivasi, antara lain:

  • Kepuasan kerja rendah – merasa kurang dihargai atau tidak menemukan makna dalam pekerjaan.
  • Beban kerja tidak seimbang – terlalu banyak tugas atau tanggung jawab yang tidak proporsional.
  • Tekanan mental dan stres – akibat deadline ketat, konflik, atau tekanan lingkungan kerja.
  • Masa kerja terlalu lama tanpa perkembangan – karyawan stagnan karena kurangnya peluang promosi atau pembelajaran.
  • Ketidaksesuaian antara harapan dan realita – ekspektasi pekerjaan berbeda dengan kenyataan yang dihadapi.

Dalam sistem kerja berbasis IoT, data absensi dan performa karyawan bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi potensi masalah ini lebih awal, sehingga tindakan preventif dapat dilakukan sebelum isu menjadi serius.

2. Faktor Perusahaan

Faktor-faktor yang berasal dari perusahaan sering menjadi penyebab utama turnover karyawan, antara lain:

  • Sistem kerja yang tidak stabil – prosedur dan struktur yang berubah-ubah menimbulkan kebingungan.
  • Gaji dan tunjangan tidak transparan – karyawan merasa tidak adil atau kurang dihargai.
  • Minim pelatihan dan pengembangan – kesempatan belajar dan naik jabatan terbatas.
  • Pekerjaan terlalu monoton – rutinitas yang membosankan mengurangi motivasi.
  • Kurangnya komunikasi antara manajemen dan karyawan – informasi dan feedback tidak tersampaikan dengan baik.

Tanpa dukungan sistem digital yang efektif, perusahaan sering terlambat menyadari masalah internal ini. Sistem berbasis IoT atau HR analytics bisa membantu memantau kondisi karyawan secara real-time, sehingga isu dapat diatasi lebih cepat.

3. Faktor Luar

Faktor-faktor ini biasanya berada di luar kendali perusahaan, namun tetap memengaruhi karyawan:

Baca juga: IT Outsourcing Terbaik dengan 100.000+ Database IT Professional

  • Jarak rumah ke kantor terlalu jauh – perjalanan panjang bisa menimbulkan kelelahan.
  • Lokasi kantor tidak strategis – akses ke transportasi dan fasilitas sekitar kurang optimal.
  • Kondisi lalu lintas yang melelahkan – kemacetan atau transportasi yang tidak nyaman menurunkan energi kerja.

Dengan penerapan sistem kerja hybrid dan pemanfaatan teknologi digital, beberapa faktor ini bisa diminimalkan, misalnya dengan fleksibilitas work-from-home (WFH) atau penjadwalan yang lebih adaptif.

Jenis-jenis Turnover Karyawan

Setelah memahami apa itu turnover karyawan di penjelasan sebelumnya, selanjutnya mari kita pahami apa saja jenis-jenis turnover karyawan yang umum terjadi.

Memahami jenis-jenis turnover membantu perusahaan mengenali pola keluar-masuk karyawan dan mengambil langkah pencegahan yang tepat

1. Turnover Sukarela

Turnover sukarela terjadi ketika karyawan memilih keluar dengan kemauan sendiri. Beberapa alasan umum meliputi:

  • Mendapat pekerjaan lebih baik – karyawan pindah untuk karier atau gaji yang lebih menjanjikan.
  • Melanjutkan pendidikan – memilih fokus pada studi atau peningkatan kompetensi.
  • Alasan pribadi – termasuk keluarga, kesehatan, atau perubahan lokasi.

Jenis ini paling sering terjadi dan perlu dianalisis polanya.

2. Turnover Terpaksa

Turnover terpaksa terjadi ketika karyawan harus keluar karena kondisi internal perusahaan. Beberapa penyebab umum antara lain:

  • Lingkungan kerja tidak sehat – konflik, tekanan berlebihan, atau budaya kerja negatif.
  • Manajemen buruk – keputusan yang tidak adil, komunikasi lemah, atau kepemimpinan yang tidak efektif.
  • Pemutusan hubungan kerja (PHK) – karena restrukturisasi, efisiensi, atau alasan bisnis lainnya.

Jenis turnover ini sering meninggalkan kesan negatif jika tidak dikelola dengan baik, sehingga penting bagi perusahaan untuk menyusun strategi komunikasi dan dukungan bagi karyawan yang terdampak.

3. Turnover Fungsional

Turnover yang menguntungkan perusahaan, biasanya karena karyawan dengan kinerja rendah keluar dan digantikan oleh talenta yang lebih baik.

4. Turnover Disfungsional

Kebalikan dari fungsional, jenis ini merugikan perusahaan, karena justru karyawan berpotensi tinggi yang keluar.

Proses Terjadinya Turnover Karyawan

Turnover karyawan tidak terjadi secara tiba-tiba. Biasanya, ada beberapa tahap yang dilalui:

  1. Evaluasi: Perusahaan menilai kinerja, sikap, dan kontribusi karyawan secara menyeluruh.
  2. Keputusan: Berdasarkan hasil evaluasi, perusahaan dan karyawan menentukan apakah hubungan kerja akan dilanjutkan atau dihentikan.
  3. Pengajuan Keluar: Divisi HRD mengelola proses administrasi, melakukan exit interview, dan menyampaikan komunikasi internal yang diperlukan.

Dengan sistem berbasis IoT dan HR digital, seluruh proses ini dapat dilakukan lebih cepat, rapi, dan terdokumentasi dengan baik, sehingga meminimalkan kesalahan dan mempermudah analisis turnover.

Cara Menghitung Tingkat Turnover Karyawan

Mengukur tingkat turnover karyawan penting agar perusahaan tidak hanya mengandalkan feeling, tapi memiliki data yang akurat untuk evaluasi dan perencanaan SDM.

1. Menghitung Turnover Bulanan

Rumus:

Turnover bulanan % =
(Jumlah karyawan keluar / Rata-rata jumlah karyawan) × 100

Contoh:

  • Karyawan keluar: 50 orang
  • Awal bulan: 2.520 orang
  • Akhir bulan: 2.500 orang

Rata-rata = (2.520 + 2.500) / 2 = 2.510

Turnover = 50 / 2.510 × 100 = 1,99%

2. Menghitung Turnover Tahunan

Rumusnya sama, hanya periode waktunya satu tahun.

Contoh:

  • Karyawan keluar: 10 orang
  • Awal tahun: 200 orang
  • Akhir tahun: 200 orang

Turnover tahunan = 10 / 200 × 100 = 5%

Dengan mengetahui tingkat turnover bulanan dan tahunan, perusahaan bisa memantau tren, mengidentifikasi masalah retensi, dan merancang strategi agar karyawan tetap loyal.

Dampak Turnover Karyawan terhadap Perusahaan

Turnover karyawan tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga berdampak signifikan pada perusahaan. Berikut dampak utamanya:

Baca juga: Manfaat Jasa IT Consultant untuk Dongkrak Bisnis Anda

1. Dampak Finansial

Turnover menimbulkan biaya rekrutmen, pelatihan, dan hilangnya produktivitas.

Sebagai ilustrasi: biaya rekrutmen karyawan bisa mencapai USD 3.000 atau sekitar Rp48.000.000 per orang. Jika turnover tinggi, biaya ini bisa membengkak tanpa disadari.

2. Dampak Operasional

  • Proyek tertunda atau berjalan lambat.
  • Beban kerja tidak merata di antara karyawan yang tersisa.
  • Pengetahuan internal dan pengalaman karyawan hilang.

3. Dampak Budaya dan Moral

Karyawan yang tetap bekerja bisa merasa:

  • Kehilangan semangat kerja.
  • Tidak aman atau kurang dihargai.
  • Kurang percaya pada manajemen.

4. Dampak Employer Branding

Perusahaan dengan turnover tinggi sulit menarik talenta terbaik, apalagi di era transparansi digital di mana reputasi perusahaan cepat diketahui calon karyawan.

Cara Mengatasi Turnover Karyawan

Untuk menekan tingkat turnover, perusahaan perlu menerapkan strategi yang tepat dan berkelanjutan. Berikut beberapa langkah yang dapat Anda lakukan:

  1. Rekrut kandidat yang tepat sejak awal – pastikan kesesuaian kompetensi, karakter, dan budaya kerja.
  2. Atur kompensasi dan tunjangan secara adil – transparansi dan keadilan meningkatkan loyalitas karyawan.
  3. Perhatikan kebutuhan dan well-being karyawan – dukungan terhadap kesehatan fisik dan mental sangat berpengaruh pada retensi.
  4. Libatkan karyawan dalam pengembangan diri – berikan pelatihan, mentoring, dan kesempatan belajar.
  5. Ciptakan lingkungan kerja yang positif – bangun budaya kerja yang sehat, kolaboratif, dan saling menghargai.
  6. Sediakan jenjang karier yang jelas – karyawan akan lebih bertahan jika melihat masa depan di perusahaan.

Dengan dukungan teknologi, termasuk sistem HR berbasis IoT, perusahaan dapat mengambil keputusan berbasis data, bukan asumsi, sehingga potensi turnover dapat dideteksi dan dicegah lebih dini.

Peran IoT dan HR Analytics dalam Mengelola Turnover Karyawan

Jika membahas tentang apa itu turnover karyawan, tentunya tidak bisa dilepaskan dari peran teknologi, khususnya Internet of Things (IoT) dan HR Analytics.

Dengan dukungan IoT, perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan laporan manual atau intuisi dalam membaca kondisi karyawan. Data dikumpulkan secara otomatis dan real-time melalui berbagai sistem terintegrasi.

Contohnya:

  • Sistem absensi digital.
  • Monitoring jam kerja dan lembur.
  • Sistem performance tracking.
  • Aplikasi employee engagement.

Data dari perangkat dan sistem tersebut kemudian dianalisis menggunakan HR Analytics untuk mendeteksi pola-pola tertentu, seperti:

  • Penurunan kehadiran.
  • Penurunan produktivitas.
  • Lonjakan izin mendadak.
  • Perubahan pola kerja.

Pola-pola ini sering menjadi indikator awal turnover karyawan. Dengan pendekatan berbasis data, HR dapat melakukan intervensi lebih cepat, seperti coaching, penyesuaian beban kerja, atau diskusi karier, sebelum karyawan benar-benar memutuskan untuk keluar.

Kesimpulan

Memahami apa itu turnover karyawan kini bukan sekadar tugas divisi HR, melainkan kebutuhan strategis bagi perusahaan. Dengan pemahaman yang tepat tentang apa itu turnover karyawan, manajemen dapat melihat bahwa isu ini bukan hanya soal karyawan keluar, tetapi juga cerminan kesehatan organisasi secara keseluruhan.

Di era IoT dan data-driven decision, pemahaman mengenai apa itu turnover karyawan memungkinkan perusahaan memantau, menganalisis, dan mengendalikan turnover secara lebih cerdas dan terukur.

Dengan manajemen yang tepat, dukungan teknologi yang memadai, serta perhatian pada kesejahteraan karyawan, perusahaan dapat menjaga turnover tetap sehat dan produktif, mencegah kerugian akibat kehilangan talenta, serta memastikan bisnis berjalan berkelanjutan, karena pada akhirnya, manusialah yang menjalankan bisnis, bukan teknologi semata.

Saatnya Optimalkan Bisnis Anda dengan Talenta IT Profesional dari TOGI!

Di era digital dan IoT seperti sekarang, keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang Anda gunakan, tetapi juga oleh orang-orang hebat di baliknya.

Jika Anda ingin membangun tim IT yang solid, kompeten, dan siap mendorong pertumbuhan bisnis, TOGI siap menjadi mitra strategis Anda.

Dengan jaringan talenta IT profesional yang berpengalaman di berbagai bidang, mulai dari software development, data analytics, cyber security, hingga sistem berbasis IoT, TOGI membantu Anda mendapatkan kandidat terbaik sesuai kebutuhan bisnis.

  • Lebih cepat
  • Lebih tepat
  • Lebih berkualitas

Jangan biarkan bisnis Anda tertinggal karena kekurangan talenta digital.

Optimalkan bisnis Anda sekarang melalui layanan IT staffing profesional dari TOGI.

Bangun tim yang kuat, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

👉 Hubungi TOGI hari ini dan mulai transformasi bisnis Anda sekarang juga!
Klik di bawah ini untuk informasi tentang layanan kami selengkapnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *